Anggota PDIP Curiga PT. JAKPRO Akan Salahgunakan Dana Pembangunan Stadion BMW

JAKARTA_JEMARINET – Kabar perseteruan antara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan PDIP DKI Jakarta, melalui ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi, tampaknya mulai melebar.

Jika sebelumnya, anies menyebutkan jika Ketua DPRD terlalu sering keluar hingga akhirnya, persetujuan pembangunan Stadion Internasional BMW (SI BMW), di Jakarta Utara, yang memakan anggaran hingga Rp. 4,5 triliun ini, terlambat dari jadwal yang direncanakan akan dimulai pada bulan Oktober 2018.

Kini persoalan berlanjut pada siapakah perusahaan yang akan mengerjakan pembangunan stadion tersebut. Edi bersikeras agar perusahaan yang akan mengerjakan pembangunannya adalah perusahaan yang menjadi pemenang lelang, melalui pelelangan di Dinas Olahraga DKI Jakarta, sementara Anies berpikiran berbeda.

Menurut Anies, jika pembangunan tersebut akan lebih baik jika dikerjakan langsung oleh perusahaan milik Pemprov atau Badan Usaha Milik Daerah, PT. Jakarta Propetindo (Jakpro). Karena menurutnya, jika diserahkan ke Dispora, maka nasib SI BMW akan bernasib sama dengan sarana olahraga lainnya, seperti GOR Bulungan atau GOR yang lainnya, yang saat ini terkendala dengan masalah pengelolaan.

“Kita tentunya tidak ingin Stadion ini bernasib sama pengelolaannya dengan gelanggang olahraga lainnya, dimana perawatan dan pengelolaannya ala kadarnya, dan sarananya hanya itu itu saja,” ujarnya beralasan soal keinginannya agar SI BMW bisa menjadi kawasan perhelatan olahraga dan kesenian yang berskala Internasional, sesuai dengan nama dan tujuannya.

Saat ini menurut Anies, penggunaan gelanggang olahraga yang berada di bawah pengelolaan Disorda, lebih banyak dipakai dan diperuntukkan bagi  komunitas tertentu saja.

“Kita ingin mengelolanya dengan entitas bisnis karena selain untuk sepakbola dan olahraga lainnya, stadion ini juga dilengkapi dengan berbagai kelengkapan untuk pertunjukkan kesenian, juga bisa dipakai untuk sebuah kegiatan seperti festival,” ujarnya menerangkan lebih jauh, karenanya Anies lebih berharap agar pengelolaannya melalui perusahaan yang tergabung di dalam kelompok BUMD milik Pemprov DKI Jakarta.

Diserahkannya pekerjaan dan pengelolaan kepada PT. Jakpro, karena PT. Jakpro sendiri dianggap sangat berpengalaman, seperti pembangunan arena balap sepeda, Velodro dan arena balap kuda Equistrian.

“Karena ini murni dilakukan dengan tujuan Bussines to Bussines maka nantinya Stadion ini akan semakin maju dan berkembang,” ungkapnya.

Sementara itu secara terpisah, Edi Prasetio merasa kesal dengan kemauan Anies untuk tetap memakai PT. Jakpro, dan bukannya dilelang serta diserahkan kepada Dinas terkait, karenanya Prasetio meminta agar Anies memecat Kepala Dinas jika Anies sudah tidak percaya lagi bawahannya.

“Jika pembangunannya diserahkan kepada PT. Jakpro maka dipastikan akan memakan waktu yang lebih lama, selain itu, saya yakin jika Jakpro nantinya akan kembali melelangnya ke BUMD,” ujar Prasetio yang menganggap jika hal itu terjadi maka menurutnya, lebih baik jika saat ini diserahkan langsung ke Dinas Olahraga untuk dilakukan pelelangan.

Penunjukan PT. Jakpro oleh Anies, juga mendapat kan tanggapan negatif, karena Prasetio mempersoalkan PT. Jakpro yang saat ini disebutnya sebagai perusahaan bermasalah dengan keuangannya. Menurut Prasetio ada dana realokasi PMD yang masih mengendap.

“Jadinya saya mengkhawatirkan jika PT. Jakpro meminta dana Penyertaan Modal Daerah (PMD), untuk membangun stadion tersebut. Karena PT. Jakpro sendiri sedang bermasalah, dengan dana Rp. 650 miliar yang masih belum dikembalikan,” ujar Prasetio yang tampak pesimis dan mencurigai PT. Jakpro akan melakukan kesalahan dengan penggunaan dana tersebut.

PT. Jakpro sendiri adalah salah satu sebuah tertua milik Pemprov, yang berdiri pada tahun 1960, dan sempat berganti nama beberapa kali, dan kini adalah perusahaan sub holding BUMD. Selain menangani pembangunan properti, juga infrastruktur lainnya seperti, jalan tol dan bidang lainnya.

Dan perjalanan PT. Jakpro yang sudah melewati 50 tahun lebih, dalam pembangunan di Jakarta, dan tentu saja, sebagai perusahaan yang sampai saat ini masih berkiprah, sudah tentu PT. Jakpro, dianggap memiliki track record yang baik.

Maka Majalah SWA dan SWANETWORK yang melakukan riset dari seluruh perusahaan yang ada di Indonesia, PT. Jakpro yang dianggap sangat pantas untuk mendapatkan penghargaan, “Indonesian Living Legend Companies 2018“.

Selain itu PT. Jakpro cukup berbangga dikarenakan sebagai salah satu perusahaan yang dianggap sebagai perusahaan yang murni kepemilikannya adalah “Asli” negeri ini, tanpa adanya campur tangan dari pemodal asing ataupun dari warga keturunan, seperti perusahaan properti lainnya, yang dimiliki oleh para warga keturunan dan ada yang menggunakan modal asing.

(Jall)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *