Walau Agama Kristen & Turunan Tionghoa, Alex Wu, Ingin Berfoto Dengan Alumni 212, Sambil Pegang Bendera Tauhid

JAKARTA_JEMARINET – Beredarnya sebuah video yang menampilkan empat orang pembicara, yang sedang melakukan jumpa pers atau sebuah pertemuan diantara sesama mereka. Namun persoalan yang muncul, ketika mereka membuat pernyataan tentang rencana untuk melakukan tindakan secara kasar kepada peserta Reuni Alumni 212 yang juga akan mengadakan aksi bela tauhid 212.

Pria yang duduk di sebelah seorang wanita, dan tampak masih muda, mengatakan jika kelompok yang akan turun untuk menghadang peserta reuni jika para peserta tetap berusaha untuk membawa dan mengibarkan bendera tauhid di acara reuni alumni 212 nanti.

Bahkan tindakan kasar mereka akan dilakukan untuk merebut bendera tersebut. Ancaman tersebut akan didukung oleh ribuan orang yang disebutnya akan mendapatkan dukungan dari berbagai warga yang berasal dari beberapa daerah seperti, Maluku, Papua, Sulawesi, Kalimantan dan dari daerah lainnya.

Video yang berisikan ancaman tersebut, beredar diberbagai sosial media, dan dibagian belakang mereka sebuah spanduk bertuliskan Forum Wartawan Polri (FWP). Namun di spanduk tersebut juga tertulis tanggal kegiatan pada 1 Februari 2010 dan 1 februari 2015. Hingga sebagian orang menganggapnya adalah hoax. Namun sebagian lainnya, masih mencoba cari tahu kebenaran video yang menyebutkan acara 212. Sementara kegiatan Aksi Bela Islam 1, 2 dan puncaknya pada aksi ketiga pada tanggal 2 Desember 2016 atau yang dikenal dengan nama ABI 212.

Pernyataan dari video tersebut, rupanya menarik seorang pria keturunan Tionghoa, yang saat ini, menjadi salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Fakfak, Papua, karena begitu rajin untuk membantu warga setempat, jika terjadi ketimpangan.

Pria yang biasa disapa Lex ini, adalah Pimpinan Redaksi sebuah media online, yang awalnya berdiri di Jakarta, namun kemudian dipindahkan ke Fakfak.

Melalui sebuah akun bernama @arlex_wu, di sosial media twitter, dirinya langsung me,posting tanggapan dari kelompok FWP yang dianggapnya kelompok provokator, karena isi video tersebut dianggapnya hanya berisi provokasi kepada yang lain. Bahkan Arlex berani menyebut jika sebenarnya semua orang sudah tahu siapa yang menjadi otak sebenarnya hingga adanya ancaman tersebut.

“Saudara muslimin/muslimah.. lanjut saja 212. Tra usah pusing provokasi. Torang itu hanya jual nama, dibelakang itu kitong semua tau siapa pu main.” Tulis @arlex_wu, yang ternyata beragama Kristen. Namun bagi Arlex kejadian ABI 212 tahun 2016 lalu, memiliki kenangan tersendiri baginya.

Ketika itu medianya “Mataanginnews” sebelum dibawa ke Papua, masih berdomisili di Jakarta, Arlex sempat mengirim wartawannya, dan diantara mereka selain beragama kristen, juga berwajah Tionghoa. Namun ternyata ketika di lokasi, Arlex yang memonitor wartawannya, justru kaget, ketika mereka justru merasa lebih nyaman, karena selain tidak diganggu, malahan mereka dapat makan dan air minum selama melakukan liputan. Dan yang paling membuatnya berkesan dan mempercayai setiap aksi oleh kelompok 212 tidak akan pernah rusuh atau ribut, adanya sepasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan di Gereja Katedral.

“Yang mau kawinan di katedral aja aman,” tulis Arlex di dinding sosial media twitternya menanggapi adanya orang orang yang tidk percaya jika aksi 212 berjalan damai dan baik.

Arlex berencana untuk datang ke Monas ketika aksi berlangsung, agar dirinya bisa membuat foto bersama dengan salah satu alumni 212, bahkan Arlex ingin memegang bendera tauhid ketika berfoto dengan para peserta.

Mau lihat dituduh gak HTI ? Atau mau makar ? Heran paranoid amat sih ?” Ujar Arlex melalui postingannya yang berencana untuk sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk singgah di Monas nanti.

Himbauan dari panitia pelaksana, memang mengharuskan jika bisa setiap peserta agar datang membawa bendera tauhid, dan tidak hanya tertuliskan di atas kain warna putih atau hitam, yang dikenal sebagai panji Rasulullah SAW.

Panitia menganjurkan agar tulisan tauhid juga di sablon atau dicetak dikain yang berwarna lain, agar tidak menjadi fitnahan dari kelompok kelompok yang selalu mencoba dan memaksa jika Panji Rasulullah, adalah bendera  ISIS atau kelompok radikal lainnya, dan walaupun sudan dijelaskan dan dijabarkan, namun tetap saja mereka menganggap seperti yang mereka inginkan.

(Jall)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *