4 Tahun Warga Aceh Hidup Di Gubuk & Bertetangga Dengan Kandang Kambing

ACEH_JEMARINET – Sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, membuat Azu Azha atau akrab disapa Midun oleh warga Dusun Mansyur, Ganpong Tanoh Anoe, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur. Harus mengorbankan anak dan istrinya untuk hidup bersama di sebuah gubuk yang sudah mulai rusak.

Kepada wartawan reportaseglobal, salah satu mitra jemari.net di Aceh, mengatakan jika dirinya harus bersabar dengan kondisi yang memang tidak layak untuk hidup berumah tangga, apalagi rumahnya tersebut, harus bersebelahan dengan kandang kambing milik tetangganya.

Midun bersama istrinya dengan terpaksa harus menerima kondisi ini, termasuk dengan bau dari kandang kambing milik tetangganya yang hanya dipisah dengan papan. Dan bisa dibayangkan bagaimana kehidupan mereka seharian dalam rumah yang hanya dibuat seadanya menggunakan tripleks bekas yang sebagian lainnya lagi ditutupi dengan plastik bekas.

“Mau gimana lagi, selama 4 tahun lebih kami sama sekali tidak pernah menerima bantuan apapun, termasuk dari pemerintah,” ujar Midun yang didampingi istrinya, Abidan, sambil menggendong anak mereka yang masih balita.

Midun sendiri masih berharap adanya bantuan untuk keluarganya seperti yang pernah dijanjikan oleh pihak Keplor yang sudah menjanjikan sejak tahun 2017 lalu akan membantu untuk memberikan rumah yang layak huni, “Tapi sampai sekarang tidak tahu rumahnya (bantuan) dimana,” ujar Midun.

Salah satu tokoh pemuda, Tanoh Anoe, Bukhari alias Toke Adek, ikut merasakan jika persoalan ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah, karena Adek merasa sudah tidak pantas lagi ada warga yang harus mengalami kondisi kemiskinan sangat buruk seperti yang dialami Midun yang kesehariannya hanya menjadi pengemudi becak motor.

“Kalau hujan terpaksa kami harus naik ke tempat yang lebih tinggi, karena sudah tentu seluruh ruangan tergenang air,” ujar Abidan menceritakan kondisinya jika musim penghujan tiba.

“Rumah ini dengan kandang kambing disebelahnya tidak beda jauh, pemerintah setempat seharusnya punya tanggung jawab moril,” ujarnya kesal.

Sementara itu, Geuchik (Kepala Desa) Tanoh Anoe, Sofyan alias Apa Yan, yang coba dihubungi untuk diklarifikasi soal keberadaan warganya, tidak bersedia untuk diwawancarai, dengan alasan sedang sibuk.

“Maaf saya sedang sibuk pesta,” ujarnya di ujung sambungan selularnya, yang langsung dimatikan, dan berjanji akan menghubungi kembali.

(Jall/Ony ReportaseGlobal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *