TK Pribumi Butuh Bantuan Investor Lokal Di Pertambangan, Agar TK Asing China Tidak Bertambah

JEMARI – Sebenarnya saya sangat berat untuk menuliskan kisah ini, karena kisah ini selain sedikit bertentangan dengan tujuanku (yg masih belum sempurna) untuk menjadi pewarta yang baik dan benar, juga karena temanku yang “curhat” soal kondisi daerahnya di Provinsi Maluku Utara sana.

Bahkan pembicaraan kami di selular lebih banyak dengan didominasi olehnya, bahkan sesekali suaranya meninggi menunjukkan emosinya meninggi, bahkan kemarahannya sesekali ditujukan kepadaku, tapi kupikir pikir ada benarnya juga.

Temanku ini sering kupanggil dengan nama singkatnya, MUS, dan dia adalah salah satu pekerja keras, bukan pekerja yang suka berdiam diri di sebuah meja sambil memegang kertas sambil corat coret, walaupun Mus adalah seorang lulusan Universitas Negeri dari Provinsi Maluku, Ambon.

Mus saat ini sedang bingung dengan kondisi yang selalu menjadi sasaran kemarahan masyarakat Indonesai terutama di sosial media, terkait dengan keberadaan perusahaan perusahaan asing yang bergerak di bidang pertambangan, dan kebanyakan perusahaan tersebut, sahamnya dimiliki oleh mayoritas investor asing dari China.

Dan parahnya investor investor ini rupanya tidak berkeinginan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia di lokasi penambangan yang mereka investasi, karena hampir 60 hingga 80 persen pegawai yang bekerja didatangkan dari negara China sendiri, bahkan pekerjaan yang dilakukan bukanlah pekerjaan yang diharuskan memiliki skill, dan tidak sedikit yang hanya bertugas sebagai cleaning service juga didatangkan dari China.

Hingga akhirnya kebijakan investor China tersebut menimbulkan kemarahan masyarakat Indonesia yang harus menyaksikan bagaimana putra putri Pribumi yang harus rela antri mengular hanya untuk bekerja sebuah restoran franchise, yang gajinya tidak mungkin memenuhi keluarga mereka jika sudah menikah. Untuk menjadi pelayan saja harus berjibaku dengan ribuan orang, apalagi berharap untuk bisa naik promosi jabatan sebagai pengawas.

Mus saat ini sedang diberikan kepercayaan oleh beberapa pemilik lahan tambang di Maluku Utara, khususnya di Pulau Halmahera untuk mencari investor agar mau melakukan penambangan di wilayahnya. Beberapa lokasi ternyata sudah memiliki ijin dan tidak ada lagi kendala, selain tentunya modal untuk melakukan produksi. Data data Jenis tambang yang dibawanya, mulai dari Nikel, Emas dan juga Batu Mangan. Dan Mus seakan akan sudah merasa putus asa dengan beberapa kali pertemuan yang ternyata lebih banyak terjadi pertemuan dengan sesama mediator, bukannya dengan para pemilik modal.

Akhirnya setelah bercerita beberapa kalimat, di selular itu, Mus tanpa ancang ancang lagi, langsung menyemprot, karena saya sendiri yang dengar, maka otomatis sayalah yang kena semprotannya. Mus menyinggung soal Tenaga Kerja Asing yang sempat dimuat dalam berita di media ini.

Percakapan yang dilakukan dalam bahasa “Melayu Ternate” untuk kepentingan pembaca, maka dirubah kedalam Bahasa Indonesia baku, Berikut hasilnya.

Saya juga lebih suka jika Indonesia ini makmur, dan masyarakat pribumi Indonesia sendiri yang menikmati kekayaan ini. Tapi kenyataan itu ternyata hanyalah adanya di ujung jari kalian..! (Kalian yang dimaksud Mus disini, adalah saya dan juga pengguna sosial media lainnya yang sering menyoroti keberadaan TKA asal China….dan ujung jari yang dimaksud adalah ketikan pada spasi ketika sedang asyik di dunia maya).

….Saya juga tidak mau para TKA asal China itu mendapatkan manfaat dari hasil bumi pertiwi ini, saya tidak suka, karenanya saya berusaha untuk menawarkan kepada orang orang kita sendiri, tapi saya malah hanya diajak dari satu mediator ke mediator berikutnya. Jadi sebenarnya dimana orang orang kaya pribumi yang ingin melihat putra putri bangsa ini menjadi sejahtera di negeri sendiri, menjadi tuan di negeri sendiri, jika mereka ternyata takut untuk melakukan investasi, apa yang mereka takutkan ????

(Saya), mungkin mereka takut dengan ketidaktahuan mereka untuk berbisnis di bidang pertambangan, karena jujur tidak juga terlalu mudah untuk melakukan itu, apalagi soal pembeli, juga soal peraturan yang mengharuskan adanya pabrik pengolahan…..karena tidak boleh menjual bahan mentah.

(Mus) semua ada aturannya, berapa kadarnya yang boleh dijual langsung dan berapa yang tidak boleh, soal pabrik itu bukan persoalan, beberapa pabrik yang ada di Maluku Utara juga mau untuk menyewakan pabrik mereka untuk mengolah hasil produksi kita, Kalau alasan tidak tahu, mereka kan bisa melakukan studi atau mengajak mahasiswa mahasiswa tambang yang ada di ITB atau IPB atau dari universitas lainnya yang memiliki fakultas atau jurusan pertambangan, tidak ada yang sulit dan susah kalau mereka mau untuk membantu negeri ini, dan saya rasa mahasiswa-mahasiswa itu juga senang jika sampai mereka bisa ikut bekerja jika nantinya perusahaan berjalan. 

Kalau soal pembeli, tidak perlu khawatir, karena sampai saat ini, masih banyak pembeli yang antri menunggu untuk membeli nikel, dan sampai saat ini mereka masih sering menghubungi menanyakan kapan akan mulai menambang.

Saya sudah beberapa kali diajak untuk ketemu dengan beberapa investor yang ternyata berasal dari China, namun saya merasa berat, karena berkaca pada kondisi perusahaan di Morowali dan beberapa tempat lainnya, dimana bangsa ini harus jadi penonton di negeri sendiri, saya lihat dan dengar sendiri bagaimana anak negeri yang harusnya bisa mendapatkan tempat untuk bekerja, ternyata harus tersingkir pelan pelan karena posisi mereka digantikan oleh TKA yang berasal dari negara mereka sendiri.

Namun di sisi lain, desakan dari pemilik pemilik lahan, ataupun juga pemilik ijin untuk segera berproduksi tidak bisa didiamkan, karena jujur saja beberapa lahan yang ada bukan hanya milik seorang, milik sekumpulan beberapa keluarga yang sampai saat ini sedang menunggu kedatangan saya untuk membawa investor dan segera menambang. 

Kalau begini terus, mungkin saya harus berpikir kembali soal masuknya investor dari China, walaupun harus menahan sakit di dada ketika harus menjadi saksi bisu ketika para TKA yang datang bekerja begitu menikmati fasilitas bagus, gaji tinggi, posisi pekerjaan yang lebih baik, karena sudah tentu mereka mau masuk berinvestasi dengan persyaratan tertentu, bisa jadi salah satu isi persyaratan tersebut adalah soal tenaga kerja mereka. 

Kamu beritahu kepada seluruh rekan rekanmu, yang di sosial media, pembaca beritamu, teman temanmu yang selalu berteriak soal TKA, agar mereka tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan kondisi di lapangan soal penambangan. 

Dan yang perlu semua teman temanmu tahu, dan bagusnya lagi kalau ada yang mampu untuk berinvestasi, katakan kepada mereka, investasi yang dilakukan saat ini akan mereka nikmati sampai kapanpun, dan yang pasti selain menampung tenaga kerja di Maluku Utara, juga bisa menyerap tenaga kerja dari wilayah lain di Indonesia, dan juga bagi mahasiswa mahasiswa khusus seperti pertambangan jangan lagi menjadikan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri adalah pekerjaan yang paling utama, karena bekerja di lapangan langsung adalah sebuah maha karya terbaik. 

Investasi pertambangan tidak akan berhenti begitu saja, karena anak cucu mereka akan bisa ikut menikmati, apalagi dikelola dengan benar dan baik, bukan tidak mungkin tidak akan lagi foto atau gambar antrian pemuda dan pemudi Indonesia yang berebut mencari pekerjaan. Karena sudah tentu tidak semua pemuda di Maluku Utara juga berniat untuk menjadi pegawai di pertambangan, hal itulah yang di isi oleh pemuda Indonesia dari luar Maluku Utara seperti dari Jawa. Dan bukan TKA dari China.

Saya minta sama kamu, sebagai seorang teman yang terkadang sudah menjadi seperti saudara saya sendiri, untuk memberitakan ini kepada seluruh khalayak ramai, agar mereka tahu jika ada anak anak kampung yang memiliki mimpi untuk bisa bersekolah tinggi, dan ada orang tua, kakek, nenek sedang bermimpi untuk bisa menunaikan ibadah haji mereka ke tanah suci, ada pemuda pemuda yang juga sedang ingin bekerja agar bisa mandiri dan melakukan hal hal positif dan kemudian mereka menikah dan membina keluarga mereka sendiri…..dan itu semuanya hanya dengan melakukan investasi yang jelas jelas tidak akan merugikan inevstasi mereka.

Wassalamualaikum Kawanku…..MERDEKA…!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *