Ini Bedanya Gubernur Old & Now ? Kalau Old Baru 2 Tahun “Kabur” Ke Pilpres, & Yang “Now” Masuk Tahun Ke-2 Tetap Komitmen 5 Tahun

JEMARI – Waktu semakin mendekati bagi rakyat Indonesia untuk kembali memilih Presiden RI yang akan dilangsungkan pada tahun depan, 2019. Sementara pendaftaran bagi Calon Presiden dan Wakil Presiden dijadwalkan Agustus 2018, bulan depan.

Namun nama nama yang akan bertarung sampai saat ini masih belum juga muncul secara terang terangan, kecuali Presiden Jokowi yang sampai saat ini terlihat masih berminat untuk kembali memasuki pertarungan pada pilpres. Selain Jokowi, juga nama Prabowo Subianto kembali muncul ketika partainya memutuskan untuk kembali mengusungnya sebagai capres.

Namun nama nama yang muncul selain keduanya juga tidak kalah ramainya, bahkan jika sebelumnya, posisi Wakil Presiden RI tidak begitu diperhitungkan, namun kali ini berbeda.

Baik Jokowi maupun Prabowo masih belum juga memperlihatkan tanda tanda siapakah yang akan mendampingi mereka. Dari pihak Jokowi, nama Tuanku Guru Bajang alias TGB dan Mahfud MD muncul, namun ditengarai kedua nama tersebut, dipastikan akan mengalami kesulitan dikarenakan keinginan para partai yang dikenal dekat dengan Jokowi, menginginkan kader mereka yang maju sebagai pendamping Jokowi.

Sementara itu dipihak Prabowo sendiri, beberapa nama Cawapres mendampingi Prabowo juga tidak kalah hebohnya, namun sepertinya nama mantan Gubernur Jawa Barat, Kader PKS, Ahmad Heryawan alias Aher yang dikenal berhasil memimpin Jabar selama dua periode, menguat untuk mendampingi Prabowo.

Selain Aher, juga muncul nama mantan Menko Kemaritiman. Rizal Ramli dianggap pantas karena Rizal Ramli dikenal sebagai salah satu “Putra Bangsa Asli” yang memiliki kepedulian terhadap bangsa, dan hal itu sejalan dengan apa yang selalu digaungkan oleh Prabowo dalam berbagai pidatonya yang tersebar di beberapa media sosial.

Lalu ada nama Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra yang berhasil meraup simpatik masyarakat, terutama dikalangan muslim, dengan melakukan pembelaan tanpa pamrih dengan memberikan “kekuatannya” sebagai seorang Pakar Hukum Tata Negara, di beberapa persidangan yang melibatkan beberapa tokoh Islam dan ulama yang dianggap dikriminalisasi dengan cara tidak adil, bahkan ketika salah satu organisasi Islam dibubarkan, Yusril juga ikut terlibat dan itu dianggap oleh masyarakat muslim, terutama dari kalangan “Alumni 212” sebagai salah bentuk kepeduliannya. Namun dikabarkan jika Yusril saat ini mengeluarkan pernyataan akan maju sebagai salah satu Caleg DPR RI. Bahkan tidak sedikit di beberapa daerah, kader dari partai lain, berbondong bondong daftar caleg melalui PBB.

Lalu nama yang tidak kalah panasnya, adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Nama Anies muncul karena ditengarai Anies akan mengulang lagi kisah “kaburnya” Jokowi dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta yang baru saja dijabatnya 2 tahun, ke bursa Pilpres, walaupun Jokowi sebelumnya sempat menyatakan kepada wartawan jika dirinya tetap sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga usai masa jabatannya selama 5 tahun.

Bahkan Anies dianggap lebih pantas dibandingkan Jokowi, karena beberapa kebijakan dan aturan yang dikeluarkan oleh Anies dianggap sebagai salah satu komitmennya menunaikan janji janji kampanyenya, seperti menutup tempat hiburan Alexis lalu menghentikan pembangunan Pulau “Palsu” Reklamasi, yang dianggap merugikan masyarakat nelayan.

Sebelumnya nama Anies didapuk untuk maju menjadi Cawapres Prabowo, namun rupanya partai pengusungnya, PKS, lebih merasa cocok jika Anies maju sebagai Capres, seperti yang dikatakan Ketua Umum PKS, Sohibul Imam dalam sebuah jumpa pers beberapa waktu lalu.

Apalagi adanya pertemuan Anies dengan Ketua Umum beberapa partai, menurut Anies pertemuannya dengan Ketum PAN, Zulkifli Hasan karena memang dirinya diundang, dan kewajibannya untuk menemui Ketua MPR RI itu. Dan PAN juga diketahui sebagai salah satu partai pengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada lalu.

Rupanya Anies Baswedan perlu untuk menghentikan prediksi soal dirinya dalam pilpres 2019. Anies akhirnya mengeluarkan pernyataan jika dirinya tidak akan maju sebagai Capres 2019 nanti. Karena menurutnya tugas yang diembannya saat ini sebagai Gubernur juga tidak kalah pentingnya.

“Saya tidak maju (pilpres), Insya Allah (tetap Gubernur) di Jakarta,” ujar Anies kepada wartawan yang mengkonfirmasi terkait dengan pernyataan Ketua Umum PKS, yang menyebut Anies lebih cocok sebagai Capres dibandingkan menjadi Cawapres.

Namun pernyataan dari PKS soal pencapresan Anies dianggap belum saatnya, karena pihak PKS tetap meminta agar Anies tetap mengurusi Jakarta yang saat ini dianggap memerlukan keberanian Anies yang dianggap lebih dibutuhkan warga miskin dan menengah Kota Jakarta.

Dan keinginan PKS rupanya juga menjadi komitmen Anies untuk tetap menangani Jakarta selama lima tahun. Dan ini dianggap sebagai salah satu sikap “Kesatria” karena memiliki komitmen dalam menyelesaikan tanggung jawab yang sudah diberikan oleh warga Jakarta yang memilihnya sebagai Gubernur DKI periode 2017-2022.

Bahkan pernyataan Anies, oleh warga netizen dijadikan hestek, #AniesDiJakarta, sebagai “peringatan” kepada netizen lainnya, jika Anies tidak akan maju dalam pilpres 2019 nanti. Hestek ini bahkan menjadi trending topik Indonesia di sosial media Twitter.

Rupanya pernyataan Anies, seperti biasanya, menimbulkan berbagai macam ujaran melalui postingan, yang mendukung datang dari para pendukungnya, sementara itu postingan yang mengejek, bahkan sampai mencaci maki Anies karena tidak ingin maju sebagai Capres. Dan postingan itu diketahui muncul dari akun akun yang dikenal sebagai pendukung Jokowi sekaligus pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pilkada DKI Jakarta lalu.

“Saya curiga yang memunculkan nama Anies dan terus menerus didorong melalui berbagai postingan justru datang dari pendukung Jokowi, karena saat ini saya yakin Prabowo sangat kuat untuk mengalahkan Jokowi, dan tentu saja tim dan strategi pilpres 2019 nanti akan lebih sistematis dan teratur karena sudah “pengalaman” pada pilpres sebelumnya,” ujar Darwis salah satu tokoh muda muslim asal Maluku Utara.

Menurut Darwis, dengan majunya Anies sebagai Capres, maka sangat mudah bagi pendukung Jokowi untuk mem-bully anies terkait dengan hasrat politiknya, Selain itu Anies juga dianggap cukup keras ketika “mengganggu” proyek Pulau Reklamasi milik pengusaha taipan, yang dikenal dengan nama kelompok 9 Naga.

“Saya dukung Anies tetap sebagai Gubernur (DKI) Jakarta, karena persoalan di Jakarta membutuhkan orang yang bersikap tegas dan memiliki komitmen, terutama komitmen untuk menunaikan janji janji kampanyenya dulu,” pungkasnya.

(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *