Rekor Baru Presiden Jokowi, Hanya 4 Tahun, BBM Naik 12 Kali, SBY 4 Kali, Soeharto 3 Kali

JEMARI – Kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintahan Presiden Jokowi sungguh sangat dianggap sangat menyakitkan masyarakat, dikarenakan kenaikan yang dilakukan selalu dengan cara diam diam, bahkan terjadi pada tengah malam.

Hingga masyarakat pengguna BBM kaget “setengah mati” ketika akan membeli bbm untuk kendaraan mereka di SPBU yang menjual BBM.

Selama menjadi presiden Jokowi sangat sering menaikkan BBM bahkan hampir dalam satu tahun dua hingga tiga kali naik. Bahkan pelantikan Jokowi sebagai Presiden baru saja berjalan 1 bulan, namun yang dilakukannya terlebih dahulu adalah menaikkan harga BBM melalui keputusan Peraturan Menteri ESDM nomor 34 tahun 2014.

Dimana mulai diberlakukan pada tangga 18 November 2014, jenis premium naik dari Rp. 6.500 menjadi Rp. 8.500/liter, Solar naik dari Rp. 5.500 jadi Rp. 7.500/liter.

Walaupun pada tanggal 1 Januari 2015 harga BBM sempat diturunkan oleh pemerintah Jokowi, namun penurunan harga yang dilakukan dengan alasan karena menyesuaikan harga minyak dunia turun, tidaklah dianggap berpengaruh, dikarenakan ketika dinaikkan pada 18 November 2014 nilai kenaikannnya sudah terlanjur tinggi. Bahkan baru sama menikmati selama 2 bulan turunnya harga minyak. Tiba tiba pemerintah menaikkan kembali, bahkan tidak tanggung tanggung selama bulan Maret 2015, sebanyak dua kali naik, pada tanggal 1 dan tanggal 28 Maret 2015.

Hingga mengundang protes dari mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM tanpa melakukan pemberitahuan terlebih dahulu. Namun aksi mahasiswa tersebut, di Jakarta dan Yogyakarta, ternyata tidak memberikan efek apapun kepada pemerintah.

Pada tanggal 1 Maret 2015, BBM premium yang sebelumnya Rp.6.600/liter, tiba tiba saja naik menjadi Rp.6.800/liter. Dan belum lagi hilang kekagetan, pada tanggal 28 Maret 2015 BBM naik lagi, jenis Premium naik menjadi Rp. 7.400. Sementara jenis Solar dari Rp. 6.400 menjadi Rp. 6.900/liter.

Pada bulan Juli 2015 ternyata pemerintah tetap tidak mengindahkan protes protes yang dilakukan warga di sosial media, namun kenaikan BBM dilakukan pada jenis nonsubsidi, Pertamax dan Dexilite, dari Rp. 800 menjadi Rp.1.000/liter.

Rupanya pemerintah sedang senang senangnya menaikkan harga BBM pada tahun 2015, dimungkinkan gelombang protes yang dilakukan gaungnya tidaklah seheboh ketika presiden sebelum Jokowi. Hingga Direktur Pembinaan Program Migas dari Kementerian ESDM, Agus C. Hadi membuat kesimpulan agar pemerintah menaikkan premium menjadi Rp. 8.450/liter namun solar diturunkan menjadi Rp. 6.700, dan hingga bulan Desember 2015 harga BBM tidak mengalami perubahan.

Namun tetap tidak berlangsung lama, tangga 12 Februari 2016, tiba tiba harga Petamax, Rp. 8.600 naik menjadi Rp. 8.900, lalu Petamax Turbo naik dari Rp. 9.600 menjadi Rp. 10.100 dan pertamina dexalite juga naik dari Rp. 9.250 menjadi Rp. 10.000.

Pada bulan April 2016 jenis Premium diturunkan menjadi Rp. 6.950 turun menjadi Rp.6.500, dan solar dari Rp. 5.650 turun menjadi Rp. 5.150/liter. Dan pada per 1 oktober 2016 premium diturunkan lagi menjadi Rp. 6.150/liter. Namun solar justru naik menjadi Rp. 5.750/liter atau naik sebesar Rp. 600.

Namun turunnya harga premium, ternyata tidak membuat masyarakat menjadi senang, dikarenakan hingga bulan september 2016 premium menjadi langka dan sulit didapatkan.

Dan lagi lagi pada bulan november 2016 BBM jenis petamax dan petamax plus mengalami kenaikan sebesar Rp. 250 per jenisnya, hingga pertamax yang berbandrol Rp. 7.350 naik menjadi Rp. 7.600/liter. Dan pertamax plus naik menjadi Rp. 8.400/liter.

Namun tidak disangka, pemerintah rupanya belum puas, dikarenakan tanggal 5 Januari 2017 tepat pada pukul 00.00 secara diam diam BBM naik lagi, dan kali ini Pertalite alami kenaikan sebesar Rp. 300. dan menjadi Rp. 7.350 dari harga Rp.7.050. Pertamax yang sudah mengalami kenaikan berulang kali, ternyata masih dianggap sebagai “BBM Primadona” untuk dinaikkan agar pemerintah mendapatkan dana segar.

Pertamax dari harga Rp. 7.750 naik menjadi Rp. 8.050 sementara, Pertamax Turbo dari Rp. 8.800 naik menjadi Rp. 9.100. Pertamina Dex dari Rp. 8.200 naik menjadi Rp. 8.500 dan mengalami kenaikan yang paling signifikan, dari Rp. 5.150 naik menjadi Rp. 7.200/liter atau naik sekitar Rp. 2.050/liter.

Usai kenaikan tersebut, hingga bulan Maret 2017 BBM tidak lagi mengalami kenaikan, namun masyarakat tetap pesimis jika pemerintah sudah merasa puas dengan kenaikan yang dilakukan berulang kali secara diam diam.

Dan terbukti pada bulan November 2017 Pertamax ternyata kembali dinaikkan secara diam diam pada pukul 00.00 (tengah malam) menjadi Rp. 8.400 pada daftar harga yang dikeluarkan oleh pertamina, yang artinya mengalami kenaikan hingga Rp. 250

Dan pemerintah sepertinya merasa sangat beruntung dengan cara menaikkan harga BBM secara diam diam, yang jelas saja berbeda dengan sikap pemerintah sebelumnya yang selalu mengumumkan akan melakukan penaikan harga BBM.

Sementara pada tahun 2018, usai puas menaikkan harga Petamax beberapa kali secara diam diam, kini giliran jenis BBM lainnya yang menjadi sasaran pemerintah. Dan pada awal tahun 2018, masyarakat langsung mendapatkan kejutan dari pemerintahan Jokowi, berupa kado, Pertalite naik Rp. 100 dan menjadi Rp. 7.600.

Harga tersebut didapat dari harga di Jakarta, dan sudah tentu untuk daerah lainnya harga Pertalite tentu saja berbeda, bahkan beberapa jenis BBM lainnya juga naik. Contohnya di Sulawesi Tengah, selain Pertalite naik dari Rp. 7.800 menjadi Rp. 7.900/liter, harga BBM jenis Pertamax juga ikut naik dari Rp. 8.800 menjadi Rp. 8.900/liter.

Jika sebelumnya kado “Tahun Baru” kini Pemerintah, kembali memberikan “hadiah” lebaran yang baru saja lewat beberapa hari, yang kemudian di ikuti pemilihan kepala daerah, berupa harga baru BBM, dan kali ini hampir seluruh jenis BBM langsung dinaikkan tanpa pilah pilah.

Dex naik sebanyak Rp. 900, lalu Pertamax naik antara Rp.500-600, Kemudian Pertamina Dex naik di kisaran Rp. 400-500. Dan sudah tentu Pertamax Turba tidak ketinggalan juga naik mulai Rp.500-550, dan rupanya Minyak Tanah juga tidak luput dari “Isi Kado” yang dipersembahkan kepada rakyat Indonesia, Untuk Minyak Tanah Non Subsidi, mengalami kenaikan paling tinggi dengan nilai mencapai Rp. 11.000.

“Dan saya yakin jika rekor menaikkan BBM dimenangkan oleh Presiden Jokowi, bahkan yang membuat saya cukup takjub, karena naiknya BBM ini tidak ada satupun “makhluk” yang dulu selalu teriak dan menangis ketika Presiden SBY naikkan BBM,” ujar Darwis salah satu tokoh muda Malut.

Dari perhitungan yang dilakukan, pemerintahan Presiden Jokowi telah menaikkan harga BBM sebanyak 12 kali, ini tentu saja merupakan rekor baru yang dibuat Presiden Jokowi soal harga BBM. Dan rekor lainnya, sudah tentu saja sepi dari demo, termasuk demo dari mahasiswa yang dikenal sangat kritis.

Bandingkan dengan Presiden SBY yang menjabat selama 10 tahun, kenaikan BBM hanya dilakukan sebanyak 4 kali, dan itupun harus mendapatkan cemohon, tangisan dari para oposisi bahkan SBY juga dikirimin kerbau.

Sementara Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, hanya mampu menaikkan BBM sebanyak 3 kali, lalu disusul Gus Dur dan Megawati, masing masing sebanyak 2 kali, hanya BJ Habibie yang tidak menaikkan harga BBM selama dirinya menjadi Presiden.

(tim)

12 Responses to Rekor Baru Presiden Jokowi, Hanya 4 Tahun, BBM Naik 12 Kali, SBY 4 Kali, Soeharto 3 Kali

  1. Edy berkata:

    Kenapa gak ada yang demo? Karena yang biasa demo itu kini sedang BERKUASA

  2. Sukarno berkata:

    Habibi mmg d best..sayang beliau bukan dari jawa, shg ga langgeng!.. barakallah pak habibi!

  3. Ini sungguh luar biasa, saya heran kenapa masyarakat tidak bersuara?? Apa karena melihat jokowi adalah presiden yg berbaur dg masyarakat?? Presiden ini paling beruntung menipu rakyat secara dian diam.

  4. Suparyadi berkata:

    Kenapa mesti ribut di Papua yg harga selangit, masyarakat Papua tidak pada demo,mungkin pemerintah mencari dana untuk pembangunan kesejahteraan rakyatnya
    ,Uang untuk kesejahteraan masyarakat luas di Indonesia,sudah di korupsi oleh para penjilat bangsa sendiri mestinya uang untuk kesejahteraan daerahnya jgn di korupsi,toh kita masih bisa beli walaupun naik sudah berkali kali,tidak usah di ribut ributkan masalah BBM naik,itu arti nya bikin membuat suasana tidak kondusif,timbul perpecahan di antara bangsa sendiri,kita serahkan kepada Tuhan yg lebih tau dan kita doa kan,semoga pemerintah mencari anggaran untuk kesejahteraan Rakyatnya di seluruh Indonesia,,Amin yaroballamin 🙏 mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan 🙏

  5. Edward Bosur Siregar berkata:

    BBM bisa tdk naik jika
    1.Penduduk tetap .perketat KB.umur menikah.jumlah istri .perceraian.
    2.Perketat jlm mesin2 dan sediakan transpotasi massal.tingkatkan perawatan mesin2 import dan tingkartkan mutu dan jenis spare part di dalam begeri
    3.Tambah fabrik minyak dan tambah dana explorasi dan pengembangan dan perbaikan sumur migas dgn perusahaan yg tercanggih tegnology dan SDM nya dgn menambah biaya trsining dan oraktek.pegawai wajib training tiap thn.stop kkn dlm recruitment.
    4.Kurangi import dgn menungkatkan product dalam negri.
    5.Stop export bahan mentah dgn mem produksi/mengolah nya di dlm negri
    6.Semua warga negara wajib mempromosikan product indonesia terutama yg tugas dan bepergian di luar negri.

  6. aly usman berkata:

    naikana ja pak jokowi rakyat kan masih kaya semua yg miskin tu pejabat ..maka nya cekikan pemerintah selalu ke rakyat miskin lo orang yg koruptor gk ada yg cekik..
    maju terus jokowi 2priode cp tau negara ini di lelang.

  7. muksal berkata:

    jokowi pemimpin yg tak bermasyarakat,
    maklum jokowi bukan orang islam dia hanya fotocopiy saja

  8. Gus Poer Jr berkata:

    Ya kan sekarang harga BBM itu di tetapkan pemerintah berdasarkan harga minyak dunia per barel. Jadi yo gak masalah berapa kali harga naikpun.
    Buat kita yang penting distribusi lancar kesediaan cukup dan tidak mengganggu perputaran ekonomicmayarakat tidak masalah naik toh keuntungannya kita nikmatibjuga to sebagai warga negara

  9. boy berkata:

    Cape lah ku jokowi mah

  10. Aditya Jaka Saputra berkata:

    Betul sekali….
    Kayanya masyarakat pendukung pada kacewa tuh…

  11. Dedeh Ritta berkata:

    Yang Sakit hati/galau mungkin orang yg berjiwa pengemis, Meskipun ngakunya orang kaya, punya mobil lebih dari 2, Dengan harga yg fantastis tp bbmx nya masih ingin di subsidi, mereka tidak Malu oleh masyarakat Papua yg berpuluh puluh tahun menikmati harga bbm/premium dg harga selangit /50rb per liter dan mereka Diam saja,
    Yg naik saat ini bbm yg non subsidi kenapa mereka ribut banget ngakunya kaya, naik segitu aja heboh….padahal Klo harga rokok, harga kuota internet naik mereka diem aja Dan tetep beli..

  12. zaskia berkata:

    Tengah malam juga , tanah dijarah asing dn oknum pemerintah pura-pura gak tau …Rezim Pura-pura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *