SBY Tantang Oknum TNI, Polisi & Intelejen Tidak Netral Dalam Pilkada, “Jika Tidak Nyaman, Silahkan Ciduk Saya”

JEMARI – Walaupun tidak menunjuk atau menyebut langsung nama oknum dari lembaga Kepolisian, TNI ataupun dari Badan Intelejen Negara (BIN) yang melakukan sikap tidak terpuji pada perhelatan pemilihan kepala daerah, namun SBY tetap yakin jika ada para oknum dari ketiga lembaga tersebut, sudah tidak lagi bisa diharapkan menjaga lembaga yang diharuskan untuk selalu menjaga sikap netral.

Mantan Presiden RI ke 6 ini, menyebut jika kejadian yang memperlihatkan sikap tidak netralnya oknum dari ketiga lembaga tersebut sangat nyata dan bukan lagi berita bohong atau hoaks.

“Saya bilang ini cerita ketidaknetralan oknum dari BIN,TNI dan Polri, dan ini nyata bukan hoaks, sekali lagi ini oknum,” ujar SBY mempertegas adanya oknum yang mempermalukan lembaga mereka.

SBY sendiri beberapa waktu lalu sudah mengeluarkan pernyataan dan sangat berharap agar lembaga lembaga pemerintah yang ada harus tetap bersikap netral, dan tidak melakukan tindakan yang akan mempermalukan institusi mereka.

SBY mengingatkan kepada seluruh lembaga yang disebutnya, jika selama 10 tahun dirinya menjadi orang nomor 1 di Indonesia, seluruh elemen lembaga yang disebutnya selalu diingatkan agar tetap menjaga sikap netral mereka dalam menjalani tugas sebagai keamanan dalam setiap perhelatan pilkada.

“Ini merupakan bentuk rasa sayang saya kepada lembaga lembaga tersebut, agar tidak bersikap keliru baik dalam pilkada maupun dalam pemilu,” ujarnya.

SBY menyebut sebuah contoh, ketika kejadian yang menimpa calon wakil gubernur DKI, Sylviana Murni, beberapa waktu lalu, ketika mendekati hari pemilihan, tiba tiba dipanggiloleh pihak kepolisian untuk diperiksa dalam sebuah kasus.

Lalu ada lagi kejadian di beberapa daerah, seperti di Papua, SBY menyebut kejadian di Papua sudah sangat keterlaluan, dimana Lukas Enembe yang juga Ketua Demokrat Papua, dipaksa untuk menerima wakilnya seorang petinggi Polri. Dan anehnya menurut SBY, cawagub tersebut, justru berusaha untuk memenangkan partai tertentu, dan bukan Partai Demokrat yang justru mengusungnya.

Di Kalimantan Timur, calon yang diusung Demokrat juga menjadi target pemeriksaan pihak kepolisian, dan hampir saja tidak bisa mengikuti pemilihan kepala daerah, karena menurut SBY calon dari Demokrat tersebut menolak untuk dipasangkan dengan seorang petinggi Polri.

Sementara di Riau, SBY mendapatkan laporan, jika ada petinggi TNI yang diarahkan oleh BIN untuk memenangkan pasangan tertentu, namun petinggi TNI tersebut, berjanji kepada SBY jika dirinya dan institusinya akan tetap bersikap netral.

Dan di Jawa Timur juga tidak luput dari data yang diterima oleh SBY jika pasangan yang diusung Demokrat, Khofifah-Emil harus menerima kenyataan ketika beberapa koordinator dari serikat buruh yang mendukung Khofifah-Emil tiba tiba saja dipanggil pihak kepolisian. Bahkan SBY menerima informasi jika kunjungan ke sebuah pabrik terpaksa harus ditunda karena pihak pabrik menolak untuk dikunjungi, dan informasi yang masuk ke SBY, jika pihak pabrik mendapat telepon dari pihak kepolisian.

SBY tidak takut untuk mengungkapkan kepada khalayak terkait dengan pernyataannya yang menyebutkan adanya oknum oknum dari ketiga lembaga tersebut yang tidak lagi bersikap netral.

“Jika pernyataan saya ini tidak membuat kondisi di institusi Kepolisian dan intelejen tidak merasa nyaman, dan ingin menciduk saya, silahkan,” ujar SBY menantang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *