Terkait Pengrusakan Kantor Radar Bogor, PDIP Diminta Belajar Dari FPI

JEMARI JAKARTA – Akibat junjungannya, Megawati Soekarnoputri, diberitakan oleh sebuah media, Radar Bogor (Jawa Pos Grup), terkait dengan gaji yang diterima, sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila alias BPIP, sebesar Rp. 112 juta lebih, para kadernya mengamuk.

Bahkan kemarahan mereka bukan hanya dengan cara menggeruduk kantor Radar Bodor, namun juga melakukan aksi kekerasan dengan memukul staff kantor Radar Bogor yang berada di Tanah Sereal Kota Bogor.

Judul berita “Ongkang Ongkang Kaki Dapat Rp. 112 Juta” yang membuat ratusan kader PDIP mengamuk secara membabi buta hingga merusak beberapa properti milik kantor, cerita Tegar Bagja selaku pimpinan redaksi yang juga sempat di dorong oleh massa yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Kejadian ini rupanya menjadi sorotan, karena kelakuan massa PDIP yang dianggap tidak melakukan itikad baik terlebih dahulu, seperti yang sering dilakukan oleh FPI ketika merasa keberatan dengan pemberitaan yang dilakukan oleh sebuah media.

“FPI beberapa kali tidak menerima pemberitaan terkait dengan mereka, namun belum pernah sekalipun saya dengar atau baca sampai terjadi pengrusakan ataupun pemukulan kepada staf kantor berita yang didatangi,” ujar Darwis salah satu tokoh muda asal Maluku Utara, yang dihubungi via selularnya.

Seharusnya PDIP belajar dari FPI cara melakukan protes terhadap sebuah berita jika dianggap merugikan. Darwis berharap agar pihak kepolisian segera memproses kejadian tersebut, karena menurutnya kejadian ini akan berakibat negatif jika massa perusak kantor Radar Bogor dibiarkan tanpa dilakukan proses.

FPI sendiri memang banyak diberitakan secara negatif oleh beberapa media, namun dari penelusuran redaksi jemari.net, ada tiga kantor berita besar yang didatangi oleh FPI untuk meminta klarifikasi, soal maksud dan tujuan pemberitaan yang dianggap tidak benar, atau FPI menuntut permintaan maaf dari pihak media yang memuat berita yang melecehkan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Sihab, namun tidak ada satupun yang memberitakan terjadianya pemukulan ataupun pengrusakan kantor, seperti yang terjadi di Kantor Radar Bogor oleh massa kader PDIP.

“Sebaiknya PDIP belajar kedewasaan dari FPI soal menggeruduk sebuah kantor media terkait dengan pemberitaan,” pungkas Darwis, yang menyayangkan tindakan tersebut, justru akan membuat PDIP tidak lagi mendapatkan simpatik dari warga Bogor khususnya, bahkan menurut Darwis, secara nasional berita ini akan menyudutkan PDIP.

(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *