Warga Bogor Dikagetkan Dua Dus Supermi Isi EKTP Beralamat Provinsi Sumatera Selatan

JEMARI BOGOR – Setiap warga yang akan membuat KTP Elektronik diharuskan untuk mengurus di Kelurahan tempatnya tinggal, bukan didaerah lain, apalagi sampai membuatnya di pulau lain, yang jelas jelas bukan wilayah administratif tempat tinggal.

Namun kejadian ini membuat kita sedikit heran, ketika warga Simpang Salangbeda, Desa Parakansalak, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, menemukan dua dus supermie yang tercecer dari sebuah truk terbuka.

Dan ketika dibuka, ternyata kedua dus tersebut, berisikan ribuan KTP-E yang beralamatkan Provinsi Sumatera Selatan. Dari beberapa keterangan warga, dua dus yang berisi supermi tersebut, sudah diambil kembali oleh supir truk yang sempat tidak tahu ketika jatuh.

“Supirnya balik lagi, dibantuin sama tukang ojek dan warga untuk ngumpulin lagi KTP-nya dan langsung dibawa pergi, tidak tahu kemana tujuannya,” ujar seorang warga yang sempat ikut melihat KTP yang tercecer tersebut.

Warga sekitar memperkirakan ada jutaan KTP yang dibawa oleh truk yang muncul dari jalan Yasmin, karena diperkirakan masih ada puluhan kardus yang sama. Namun sayangnya warga yang ditanyakan tidak ada satupun yang memperhatikan nomor polisi truk yang membawa kardus yang berisikan KTP.

Truk hanya sempat diketahui langsung menuju ke jalan Parung Raya Bogor yang terusannya menuju ke wilayah perbatasan ke arah Provinsi Banten dan Jakarta.

Kini pertanyaannya akan dibawa kemanakah KTP tersebut, dan diperuntukkan buat siapa ? Karena sudah jelas jika kejadian ini memperlihatkan adanya keanehan dan bisa saja dibuat untuk sebuah kejahatan yang memerlukan KTP.

“Bisa saja dibuat untuk warga negara lain, yang ingin tinggal di Indonesia, karena KTP-E Indonesia saat ini dibuat di luar negeri,”ujar Heikal yang mengingatkan ketika munculnya ratusan jumlah KTP-E yang ternyata dibuat di Vietnam. Bahkan beberapa kejadian kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya, juga menggunakan KTP terutama soal perbankan ataupun penipuan lainnya.

Bahkan banyak postingan di sosial media sejak lama, yang memperlihatkan kepemilikan KTP yang berlainan nama, namun memiliki data termasuk dengan alamat yang sama dengan pemilik KTP asli yang bermukim di alamat tersebut. Namun tidak ada satupun yang diganjar dengan hukuman, terkait dengan hal itu.

Dan menurut Heikal, yang paling membuat miris, ada ratusan ribu penduduk Indonesia belum mendapatkan KTP-E, dan mereka mereka adalah penduduk yang memiliki hak pilih. Heikal merasa heran dengan alasan petugas kelurahan ataupun dinas terkait soal blangko KTP-E yang belum ada, “Ada yang sampai dua tahun belum juag mendapatkan KTP-E, ini kan aneh ?” pungkas Heikal yang menyinggung jika uang proyeknya sudah habis dibagi bagi.

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *