Kapolres Jayawijaya, Ancam Pemilik Prostitusi, Judi Ayam, Pembuat & Penjual Miras Oplosan, Bongkar Atau Dibongkar Paksa

JEMARI PAPUA – Rupanya prostitusi di Papua semakin menjadi jadi, bahkan untuk mengelabui petugas, sejumlah tempat prostitusi dibuat berpencar.

Bahkan perbuatan melanggar hukum lainnya seperti perjudian, dan juga penjualan miras semakin marak dan disinyalir oleh Kepolisian Resor Jayawijaya, bukan hanya berada di satu tempat.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba, mengatakan akan segera melakukan tindakan hukum terhadap para pelaku kejahatan tersebut, bahkan Polisi menggandeng serta pihak TNI dan Satpol PP, selaku penegak Perda.

Bukan hanya menjadi wilayah penjualan miras, namun Kabupaten Jayawijaya, sudah menjadi sentra produksi miras oplosan yang dikneal sebagai salah satu pencabut nyawa bagi yang suka menenggak miras.

“Kami akan tertibkan semuanya sekaligus, dan mereka tidak akan bisa menghindar, karena seluruh data termasuk titik titik penjualan dan pembuatan miras oplosan sudah kami dapat,” Ujar Yan sambil menambahkan jika lokasi prostitusi juga akan bersamaan dibongkar, walaupun mereka melakukan praktik terselubung.

Namun Yan tetap ingin mengedepankan tindakan secara persuasif, dengan cara menyurati tempat tempat tersebut, agar segera melakukan pembongkaran, jika tidak di indahkan maka pihaknya akan melakukan pembongkaran secara paksa.

 

 

“Kami akan menyurati terlebih dahulu untuk memberikan peringatan kepada mereka dan apabila tidak mengindahkan maka kita akan masuk dan bongkar tempat-tempat itu,” katanya.

Yan Pieter mengharapkan pemerintah di tingkat bawah dalam hal ini RT dan RW melakukan pendataan terhadap setiap penduduk yang masuk dan keluar di Jayawijaya agar kehadiran mereka jelas, sebab tidak menutup kemungkinan mereka hadir untuk membawa pengaruh negatif.

“Pendataan harus jelas agar mereka yang masuk dan keluar ini tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujar Yan Pieter yang saat ini menjadikan peredaran Narkoba sebagai perhatian utama.

“Karena dulu kami temukan, sebuah lokasi yang ditanami pohon gnaja sebanyak 10 pohon di Distrik Wolo, dan sampai saat ini lokasi tersebut sudah tidak lagi, dan menjadi perkebunan ubi, kami menduga pelaku adalah warga masyarakat yang sengaja menanam, yang kemudian disembunyikan dalam rumah,” Pungkas Yan Pieter.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *