Video 3 Anggota Polri Perlakukan Seorang Santri Di Jalanan Mirip Tentara Israel Perlakukan Warga Palestina

JERAMI – Usai kasus pengeboman yang terjadi di Surabaya, hingga berturut turut selama dua hari teradi, rupanya menjadikan ketidaknyaman bagi mereka yang biasanya melakukan perjalanan dengan pakaian yang identik sebagai seorang muslim.

Seperti kejadian di Terminal Trenggalek Jawa Timur, sebuah Bus Antar Kota terpaksa harus mengalami keterlambatan keberangkatan, dikarenakan seorang penumpang wanita yang bermaksud untuk melakukan perjalanan, mendapati kenyataan harus menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, ketika dirinya yang memakai pakaian syariah sebagai seorang wanita muslim yang dituntut untuk menutup auratnya, terpaksa harus mengikuti pihak petugas Dinas Perhubungan Terminal Kota Trenggalek, untuk diperiksa identitasnya oleh petugas, setelah penumpang lainnya ketakutan dan mencurigai dirinya yang dianggap berbahaya bagi penumpang lainnya. Rupanya beberapa penumpang lainnya merasa trauma dan membandingkan dengan kejadian bom bunuh diri di Surabaya.

“Ini tidak benar, pemerintah harus memberikan rasa aman kepada warganya, tidak begini caranya, ini sudah melanggar hak asasi manusia, ini namanya persekusi tanpa alasan,” ujar Darwis salah satu tokoh muda Maluku Utara.

Menurut Darwis persoalan bom bunuh diri di Surabaya siapa saja mengutuknya, namun dirinya percaya jika perbuatan yang dilakukan oleh pelaku sekeluarga tidak serta merta dilakukan tanpa perencanaan secara matang yang didahului dengan observasi lapangan dengan seksama.

“Jadi hentikan, cara cara tidak terhormat tersebut, jangan sampai rakyat justru menjadi muak dengan sikap para petugas siapa saja yang seenaknya melakukan perbuatan yang membuat malu,” ujarnya, bahkan Darwis membayangkan jika wanita tersebut akan merasa sangat malu karena dihadapan orang banyak.

Belum lagi usai kasus secara sepihak oleh pihak penanggung jawab Terminal Pulogadung, kini muncul lagi sebuah video yang lebih memilukan, dikarenakan seorang pria yang diduga adalah seorang santri yang pulang dari pesantren, atau mungkin akan melakukan perjalanan jauh, terpaksa harus menghadapi tindakan yang membuatnya marah akibat malu diperlakukan bagai seorang teroris berbahaya.

Dalam video yang beredar di sosial media, dan juga dikirimkan kepada redaksi media ini, memperlihatkan seorang pria yang mengenakan peci berwarna hitam dan memakai sarung, layaknya seorang santri, sambil membawa tas punggung dan sebuah kardus yang diikat, sambil ditenteng, ditahan oleh tiga orang anggota kepolisian yang kebetulan melihatnya.

Ketiga polisi tersebut langsung menghentikan, agak menjauhi posisi santri tersebut, sambil berteriak dan memaksa agar pria tersebut, untuk membuka dan mengeluarkan isi kardus yang dibawanya.

Karena kaget dan dirinya menyadari jika dirinya dicurigai sebagai seorang pelaku bom bunuh diri, maka kardus yang sudah direkat dan diikat secara rapi, langsung dibongkar, bahkan saking marah bercampur jengkel, terliat dari sikapnya, yang langsung mengeluarkan satu persatu pakaian dari dalam kardus secara paksa dan kemudian dilemparkannya dengan maksud untuk memperlihatkan kepada ketiga polisi tersebut, jika isi kardus yang dibawanya adalah pakaian.

Namun ketiga anggota aparat kepolisian yang memperlakukan pria tersebut, tidak merasa puas dan memaksa agar pria tersebut juga mengeluarkan dan memperlihatkan isi tas punggung pria tersebut. Hingga akhirnya dirinya tidak tahan lagi, isi tas yang juga berisi pakaian, langsung ditarik paksa, bahkan langsung dilemparkannya pakaiannya dari dalam tasnya keatas.

“Saya tidak bisa membayangkan jika RUU Terorisme langsung disahkan tanpa menyebutkan definisi arti dari terorisme itu sendiri, bisa saja si santri tersebut, langsung disergap dan dibanting kemudian diseret untuk memperlihatkan isi tas dan kardus yang dibawanya,” ujar Darwis menanggapi video yang diperlihatkan kepadanya melalui kiriman via sosial media  untuk ditanggapi.

Darwis membayangkan bagaimana situasi dan kondisi warga masyarakat Indonesia yang saat ini dikenal oleh seluruh dunia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, namun mendapatkan perlakuan yang tidak layak.

“Saya seperti menonton kejadian di Israel, ketiks tentara zionis Israel perlakukan warga Palestina, mirip dengan kejadian di video tersebut, bahkan bukan tidak mungkin akan ada penembakan, hanya karena merasa bukan sebagai teroris, lalu berdebat dengan pihak polisi, karena merasa dipermalukan di depan umum ?” ujar Darwis yang meminta agar pendekatan secara persuasif oleh aparat keamanan dikedepankan, karena rakyat bukanlah musuh, dan dirinya percaya jika 99,99 persen muslim di Indonesia justru mengutuk perbuatan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya. Berikut videonya.

(Jall/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *